ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF 7

CEP diidentifikasi sebagai obat paling efektif melawan SARS-CoV-2 terkait pangolin coronavirus xCoV, sebuah coronavirus baru yang diisolasi dari trenggiling yang 92,5% homolog dengan protein lonjakan (S) SARS-CoV-2, dalam skrining obat besar dari 2.406 obat yang disetujui secara klinis. Dari sudut pandang kimia, CEP diklasifikasikan sebagai alkaloid biscoclaurine, yang termasuk anggota keluarga besar alkaloid siklik bisbenzylisoquinoline yang secara struktural dekat [9,24]. Perlu dicatat bahwa ada beberapa upaya yang gagal untuk mensintesis CEP dengan biaya yang efektif [9]. Oleh karena itu, pemisahan dan pemurnian alkaloid merupakan kunci pengembangan obat CEP. Teknologi pemisahan dan pemurnian tradisional didasarkan pada fakta ini, yaitu monomer alkaloid yang berbeda memiliki polaritas dan kelarutan yang berbeda dalam beberapa pelarut, untuk memisahkan alkaloid, atau memisahkan alkaloid dari campuran dengan distilasi sesuai dengan kelarutan alkaloid atau garam alkaloid yang berbeda. 









Komentar

  1. Dari video yang ditampilkan ada beberapa metode atau teknik dalam pemurnian CEP, dalam jurnal saya dikatakan bahwasanya metode kromatografi arus berlawanan kecepatan tinggi (HSCCC) dikombinasikan dengan metode resin makropori sehingga nantinya akan didapatkan senyawa dari suatu tanaman untuk membuat suatu obat. Pertanyaannya mengapa metode HSCCC tidak dikombinasikan dengan ekstraksi dua fase berair, mengapa ia dikombinasikan dengan resin makropori

    BalasHapus
    Balasan
    1. dalam literatur saya, kombinasi HSCCC yang dipilih adalah dengan dengan persimpangan pH dinamis yang dimana telah berhasil diterapkan pada pemisahan dan pemurnian CEP dari Stephania ceph arantha. Metode persimpangan pH dinamis
      adalah metode pemfokusan yang diinduksi perbedaan kecepatan dalam elektroforesis kapiler (CE) dan konsepnya bergantung pada perbedaan substansial dalam mobilitas analit pada pH yang berbeda. Perbedaan pH antara sampel dan elektrolit dapat diterapkan untuk menumpuk komponen yang dapat terionisasi pada antarmuka. Misalnya, asam lemah terprotonasi pada pH rendah dan terionisasi pada pH tinggi dan oleh karena itu dimungkinkan untuk memusatkan asam lemah pada sambungan pH dinamis yang bergerak melalui sampel dengan menggunakan matriks sampel asam. Berdasarkan mekanisme ini, metode HSCCC persimpangan pH dinamis untuk pemisahan dan pemurnian alkaloid didasarkan pada peningkatan kecepatan elusi analitik mengikuti perubahan keadaan ionisasi dari zona basa ke zona asam.

      Hapus
  2. Teknik HSCCC pada jurnal yang ditampilkan itu menggunakan parut heksana etil asetat, metanol dan air sedangkan pada jurnal yang saya dapatkan yaitu menggunakan etil asetat, n butanol dan air, serta volumenya yang berbeda lalu mengapa terjadi perbedaan pelarut yang digunakan dalam metode HSCCC, apakah ada ketentuan khusus dalam pelarut tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sistem pelarut HSCCC dua fase dipilih sesuai dengan koefisien partisi K dari masing-masing senyawa target yang ditentukan oleh HPLC. Koefisien partisi masing-masing alkaloid diperoleh pada matriks pH tinggi sehingga senyawa tersebut berbentuk molekul dan nilai K dihitung dengan luas puncak yang diperoleh dari fasa atas ke yang diperoleh dari fasa bawah.

      Hapus
  3. Metode HSCCC dari jurnal saudari akhirnya mendapatkan kemurnian hingga 99, 3%.Dibandingkan dengan jurnal yang saya dapatkan hasil HSCCC nantinya akan dianalisis lagi untuk mendapatkan hasil.
    Lalu apakah kemurnian yang dihasilkan dari jurnal saudari itu sudah dianalisis terlebih dahulu dengan HPLC?Dan bagaimana prosedurnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Analisis HPLC dilakukan dengan menggunakan Diamonsil C18 (250 × 4,6 mm, ID 5 m). Fase gerak terdiri dari 0,2% trietilamina: asetonitril (35:65, v/v) dielusi dengan laju alir 1,0 mL/menit. Efluen dipantau oleh detektor UV pada 282 nm. Hubungan linier antara area puncak dan konsentrasi (masingmasing 1,00–200 mg/L senyawa) ditetapkan dengan faktor korelasi R = 0,999 untuk BBM dan CEP. Standar deviasi relatif adalah 1,7% untuk BBM dan 0,9% untuk CEP berdasarkan rangkap tiga. BBM dan CEP berhasil diekstraksi dari S. ceparantha berduri dengan pemulihan mulai dari 92,0% hingga 97,0% dengan reproduktifitas yang baik (RSD <3,7%).

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIMIA MEDISINAL 3

ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF 15

METODE FARMAKOLOGI 7