METODE FARMAKOLOGI 5
Dalam upaya menangani penyebaran covid nineteen ini Tentunya seluruh negara mulai melakukan riset mengenai bagaimana menemukan suatu obat dengan efek terapi yang tepat dalam membasmi penyakit yang menyebar keseluruh dunia ini. Ligan Based Virtual Screening merupakan teknik Komputasi yang digunakan untuk proses pencarian kandidat obat dari database yang paling mirip dengan ligan serta senyawa mana yang strukturnya paling dapat berikatan dengan target obat. skrining virtual berbasis ligan menggunakan hidroksiklorokuin sebagai obat rujukan, dengan tujuan mengubah posisi obat yang disetujui untuk mengobati infeksi SARS- CoV-2. Hasil validasi kami mengidentifikasi zuclopenthixol dan nebivolol sebagai pilihan terapi yang berpotensi baru dan layak untuk pengobatan inkubasi dan infeksi COVID-19 tahap awal.
Baik, dari video yang saudari jelaskan bahwa skrining virtual berbasis ligan bisa dengan menggunakan obat rujukan yaitu hidroksiklorokuin sehingga didapatkan hasil validasi yaitu 2 obat sebagai pilihan terapi yang berpotensi baru untuk penangan covid 19. Jadi, apakah ada atau bisa dengan obat rujukan yang lainnya sehingga bisa dijadikan pilihan terapi dan obat tersebut berpotensi baru untuk penanganan covid 19?
BalasHapusContoh lain dari percobaan penemuan obat Covid 19 dengan obat rujukan lain salah satunya yang dilakukan oleh Ashimiyu et.al (2020), dimana dilakukan Percobaan in silico untuk menemukan kandidat obat atau menyelidiki klaim anekdotal. Salah satu obat dengan beberapa manfaat anekdotal adalah Cefuroxime. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengidentifikasi dan meringkas dalam silicobukti untuk kemungkinan aktivitas Cefuroxime terhadap SARS-CoV-2. Untuk tujuan ini, peneliti melakukan tinjauan literatur percobaan penggunaan kembali obat in silico untuk SARS-CoV-2 menggunakan PRISMA-ScR. Sefalosporin Cefuroxime generasi kedua menunjukkan aktivitas potensial melawan tiga protein SARS-CoV-2 dalam percobaan in silico dan mungkin merupakan penghambat multi-target yang menjanjikan. Sejarah panjang pemantauan populasi Cefuroxime menjadikannya pilihan yang andal untuk studi in vitro dan in vivo lebih lanjut dalam perang melawan COVID-19.
HapusBaik, seperti yang kita ketahui bahwa tidak sembarangan untuk melakukan suatu penemuan alternatif dari obat yang menjadi potensi penanganan infeksi covid 19, apakah untuk ligan yang digunakan kita mempertimbangkan toksisitas dari ligan tersebut dan jika iya mengapa kita perlu melakukan suatu uji toksisitas dari ligan tersebut?
Hapuspengujian toksisitas ligan menjadi penting dilakukan mengingat ini merupakan bagian dari senyawa obat yang juga akan berpengaruh terhadap ADMET (Abrobsi Distribusi Metabolisme Eksresi dan Toksisitas), dimana hal hal tersebut sangat penting diperhatikan dalam pengujian keaman suatu obat nantinya. metode virtual atau dengan kata lain adalah 'docking buta', tidak hanya memakan waktu dan menuntut komputasi, tetapi juga menghasilkan kemungkinan yang berlebihan dan beban untuk pemilihan senyawa. setelah memfilter senyawa dalam pengujian, perlu di lakukan uji toksisitas untuk memisahkan senyawa yang menberikan efek toksik atau farmakologis.Oleh karena itu, kombinasi penyaringan untuk sifat farmakologis dan adsorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksikologi (ADMET) yang diinginkan disarankan di awal proses desain obat.
HapusBaik, dari pertanyaan yang saya ajukan dan juga dari jawaban yang saudari paparkan bahwa dapat disimpulkan skrining virtual berbasis ligan ini bisa juga dengan menggunakan obat rujukan lain seperti cefuroxime yang juga bisa dijadikan kandidat obat yang baru dalam penanganan infeksi covid 19. Dari penemuan obat tersebut, ligan yang digunakan juga dipertimbangkan toksisitas dari ligan tersebut mengingat ini merupakan bagian dari senyawa obat yang juga akan berpengaruh terhadap ADMET (Abrobsi Distribusi Metabolisme Eksresi dan Toksisitas).
BalasHapus